Tips dan Trik Tanaman Bonsai Black Pine / Pinus Thumbergii

Oleh : Suhendra

Lihat dalam bentuk blog

(c) Hak Cipta Bonsai Star Gallery. Dilarang mengkopi sebagian/seluruh artikel ini tanpa izin tertulis dari Bonsai Star Gallery.

 

 

 

Halo teman-teman penggemar bonsai semuanya. Apa kabar ? Semoga anda semua dalam keadaan sehat sentosa. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman tentang cara memelihara, merawat, dan membuat bonsai black pine. Mungkin pengalaman saya ini hanya cocok untuk daerah tropis saja. Dan saya harap anda yang menanam black pine juga memiliki pengalaman yang berbeda untuk saling tukar pengalaman. Saya mencoba menanam black pine sejak 25 tahun yang lalu (sekitar tahun 1980) mulai dari biji yang didapat dari relasi yang pergi ke luar negeri.

Saya mengenal dan jatuh cinta pada bonsai black pine, setelah 2 tahun saya mempelajari mengenai bonsai dari buku bonsai luar negeri, tentang cara memelihara dan membuat bonsai dgn mempraktekkan membuat bonsainya, lambat laun membawa saya pada penguasaan bonsai. Ketika saya mempelajari buku tersebut, saya melihat foto bonsai black pine dan Cemara (Juniperes) yang begitu indah, gagah. Lebih-lebih ketika melihat foto blak pine kulit batangnya yang retak-retak sehingga terlihat tua antik dan anggun. Dari keterangan para pebonsai di Taiwan blak pine bisa hidup pada musim dingin dan panas. Pada musim-musim tersebut daunnya tetap hijau dan subur, dengan kata lain adalah jenis pohon abadi. Dari buku-buku yang saya baca, saya yakin bahwa pohon ini bisa hidup di daerah tropis. Sejak itulah saya bertekad untuk mendapatkan jenis pohon ini dan mencoba menanamnya untuk dikembangkan di Indonesia .

Pertengahan tahun 1980 saya bersama kakak saya pergi ke Taiwan untuk menghadiri pameran bonsai internasional. Sambil mencari jenis pohon baru khusus untuk memperkaya jenis bonsai di Indonesia, ketika pulang dari Tai Wan saya membawa pulang beberapa jenis tanaman bonsai yang selalu saya lihat ada di dalam beberapa buku bonsai luar negeri dan tidak ada di pasar Indonesia (sebelum tahun 1985). Jenis-jenis tersebut adalah: Hokkian Tea (Carmona mycrophylla ), Pyracanta (Pyracanta Grenulata), Ulmus (Ulmus Parfiflora), Karet Kimeng (Ficus Microcarpa). Setelah membeli bonsai-bonsai tersebut, yang tidak lupa saya utamakan untuk diincar adalah Black Pine. Setelah saya menyisakan uang saku untuk biaya pulang, maka seadanya sisa uang yg saya bawa dibelikan bermacam-macam jenis pinus mulai dari biji, pohon muda, bonsai ½ jadi, sampai bonsai jadi.

Beberapa pebonsai Taiwan memberi saya informasi bahwa dari beberapa jenis pinus yang ditanam, Black Pine (Pinus Thumbergii) tumbuhnya yang paling baik.dan ada 3 macam, yaitu:
1. Daunnya agak panjang (yang umum ada di pasaran).
2. Daunnya pendek (Seu Sung).
3. Daunnya mini (Zuen Sau Hei Sung).

Tiga macam Black Pine ini paling disukai oleh pebonsai Taiwan untuk dibuat bonsai. Selain itu, saya belajar beberapa teknik cara menanam dan merawat black pine yang akan saya bagikan kepada anda semua.

 

PROSES SEBELUM MENANAM

Setelah sampai di rumah, semua pohon yang saya bawa dari Taiwan tanahnya sudah dicuci bersih karena tidak boleh berikut dengan tanahnya. Hal ini adalah peraturan antar negara untuk mencegah menyebarnya hama dan penyakit tanaman. Lalu saya buka satu per satu plastik yanng membungkus mos (pengganti tanah yang membungkus akarnya supaya dalam perjalanan tetap lembab). Kemudian semua akar tanaman yang sudah dibersihkan mosnya direndam pakai vitamin tanaman atau boleh juga cairan pupuk organik selama 1 jam. Terakhir tanaman diangkat dari rendaman dan ditanam dalam pot.

  

MEDIA UNTUK PINUS (Cocok juga untuk Cemara=Juniperus)

3 bg pasir ukuran 1-2 mm (tepung pasir jangan dipakai) +
1 bg tanah yang gembur (Jangan tanah yang lengket seperti tanah liat, dsb) +
1 bg humus (atau kompos sebagai pengganti humus).

Setelah diaduk rata, baru dipakai untuk menanam (cara menanam dalam pot bisa dilihat dalam artikel Loa Variegata). Ada sedikit cerita tentang pasir. Sekitar tahun 1990 di Indonesia telah ditemukan satu macam pasir gunung dari pinggiran kota Malang , sehingga disebut pasir Malang . Pasir ini ditemukan oleh pehobi dan pemburu bonsai bakalan di alam. Keistimewaan pasir ini adalah bersih, tidak ada tepungnya maupun sampah. Boleh dikatakan sudah bebas dari hama dan penyakit yang biasa ada di tanah atau pasir kali/gunung. Jadi kalau mau dipakai menanam tidak usah dicuci lagi, dan pasir ini berpori sehingga bisa menyimpan air dan udara. Ada beberapa tanaman yang lebih baik ditanam dengan pasir ini dibandingkan media lain, seperti pohon Santigi (Phempis Acidula), Cemara Udang (Casuarina Equisetifolia), Black Pine, Cemara, dsb. Memang pasir malang ini sangat menguntungkan bagi pehobi bonsai dan sebagian pecinta tanaman hias seperti caktus, adenium, sansivera, dsb. Pasir ini seterusnya saya pakai untuk campuran membuat media menanam Black Pine dan bonsai lainnya.

 

PROSES SETELAH DITANAM

Setelah black pine ditanam dalam pot, batangnya harus diikat erat dengan pot supaya pohonnya tidak kena goyang. Sebab pohon apapun yang baru direpoting ada dalam masa krisis, karena akarnya belum menyatu dengan media barunya sehingga belum berfungsi secara normal. Apalagi kalau akarnya dipotong sebagian dan sudah mulai tumbuh akar baru, kalau kena goyang maka akar baru yang masih regas bisa putus dan bisa kena bahaya mati. Setelah beres diikat taruhlah di tempat teduh, lalu tanahnya disiram tuntas (sampai airnya keluar dari lubang dasar pot). Kurang lebih 2 minggu ditaruh di tempat teduh, dalam waktu ini penyiraman pun harus dijaga jangan sampai kebanyakan atau sampai kekeringan. Lebih baik bertahan setengah kering daripada kebasahan, demi mencegah kebusukan akar. Hal ini berbeda dengan penyiraman black pine yang sudah hidup kuat atau sudah jadi (lihat keterangan di bawah tentang penyiraman). Setelah 2 minggu maka pohonnya akan terlihat sehat, daunnya hijau dan kekar. Barulah kemudian ditambah waktu untuk terkena sinar matahari secara bertahap. Kemudian tunggu sampai keluar tunas baru, yang merupakan tanda bahwa akar barunya sudah keluar dan siap untuk full dijemur.

Ada beberapa pehobi bonsai yang tidak mengetahui tentang media dan proses menanamnya, atau tidak sabar melaksanakan penanaman dan perawatan black pine (yang memang tidak sama dengan jenis ficus atau jenis lain yang lebih mudah pemeliharaannya). Dgn melakukan perawatan yang tidak benar sehingga black pine miliknya mati. Lantas mereka mengatakan bahwa black pine tidak bisa hidup di Indonesia atau bisa mati apabila direpoting, yang lebih parah ada pehobih bonsai dan pedagang bonsai yg baru saja melihat blak pine dari foto di buku bonsai ikut-ikutan menyatakan demikian. Sehingga banyak pemula atau kolektor bonsai yang terkecoh jadi tidak berani memelihara black pine.

 

MERAWAT BONSAI JADI BLACK PINE  

Untuk pruning (mencukur daun), bisa kita lihat ketika daun tuanya sudah ada yang menguning atau kelihatan agak kusam. Hal ini bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu menggunting atau mencabut. Paling bagus pruning dengan cara ke 2, yaitu bertahap mencabut daun tuanya. Caranya ketika mencabut daun tua agar tidak tercabut satu kelompok daunnya, tangan kiri pegang erat pangkal kelompok daunnya dan tangan kanan mencabut daun tuanya satu per satu dan sisakanlah daun mudanya. Kalau dengan cara ke 1, guntinglah daun tuanya diatas pangkal daun -+ 1 cm. Hal ini untuk memancing keluarnya tunas baru dari sisa daun tua ini. Sayangnya kalau dengan cara gunting bekas guntingannya akan jadi warna kecoklatan, sangat tidak sedap dipandang dan akan beberapa bulan baru bisa rontok.

Supaya ranting dan daunnya tetap pendek dan rapat (supaya bentuknya tidak kacau atau membengkak), lakukanlah:

1. Tiap tahun harus bertahap mencabut daun tuanya.

2. 2-3 tahun sekali harus memotong pendek ranting, anak ranting, dan tunas barunya. Hal ini demi menjaga bentuk yang sudah jadi supaya jangan membengkak. Biasanya tunas baru yang keluar secara alami setahun sekali dan sekali muncul ada 2-3 tunas. Buanglah tunas yang sangat subur (besar) dan yang sangat lemah (kecil) dengan menggunting dari pangkalnya. Tinggalkan tunas yang tumbuhnya sedang, lalu biarkan tunas baru ini sampai keluar daun barunya. Barulah kemudian dipotong pendek sesuai panjang yang kita inginkan. Setelah kurang lebih 2 minggu pemotongan, dari bekas potongan akan timbul tunas yang kedua. Kalau perlu lakukan cara yang sama pada tunas kedua, sehingga kita akan mendapatkan tunas ketiga. Nah tunas kedua dan ketiga inilah akan menjadikan ranting dan daun black pine yang pendek. Teori ini sama dengan jenis pohon bonsai yang kalau tumbuh di alam bebas daunnya besar, tetapi setelah dijadikan bonsai yang ditanam dalam pot dengan beberapa kali mencukur daunnya, maka daunnya menjadi kecil seperti Sancang (Phemna Microphylla), Beringin Karet (Ficus Ratusa), dsb.

3. Ketika tunas baru sudah mekar daunnya, jangan memotong atau membuang terlalu banyak ranting-rantingnya, karena pada waktu ini dari luka pemotongan akan banyak mengeluarkan terpentennya (getah), sehingga bisa mematikan pohon. Waktu yang paling baik untuk membentuk dan menggunting ranting-ranting adalah pada saat pohon mulai kelihatan daun tuannya (ada yang kuning/kusam). Hal ini menunjukkan pohon ini dalam keadaan berhenti pertumbuhan dan sedang menyimpan energi, serta siap untuk mengeluarkan tunas barunya. Jadi pada masa ini lebih aman bagi black pine untuk dilakukan pruning dengan cara cabut atau gunting, serta melakukan pengurangan/pemotongan ranting-rantingnya, karena pohon ini sedang kuat-kuatnya.

 

CARA REPOTING / GANTI TANAH BONSAI BLACK PINE

Proses merepoting bonsai menjadi black pine adalah cukup 3-4 tahun sekali, karena akar black pine lambat pertumbuhannya. Kalau kurang dari 2 tahun direpoting akarnya belum cukup tua. Kalau lebih dari 4 tahun tidak direpoting maka akarnya akan terlalu padat dalam pot. Hal ini akan menghambat pertumbuhan dan kesuburannya.

Cara merepoting adalah setelah mengeluarkan bonsai dari pot, maka akan kelihatan gumpalan akar yang sudah menyatu dgn tanahnya. Buanglah 1/3 sekeliling pinggir gumpalan ini dengan cara mengorek tanah dan menggunting akarnya yang sudah terlalu panjang,. Lalu tanam kembali dalam pot dengan media yang diceritakan di atas, dengan cara dikorek, ujung akar lama akan bisa langsung masuk ke dalam dan menyatu dengan media baru. Hal ini akan lebih menjamin hidupnya setelah direpoting. Dan jangan sekali-sekali merepoting dengan memotong atau menggergaji gumpalan tanah dan akarnya rata seperti memotong kue lalu ditanam kembali. Cara ini menjadi gumpalan akar dan tanah yang lama dikelilingi (dibungkus) oleh media baru, sehingga akan menimbulkan panas yang tidak tersalurkan dalam gumpalan dan akhirnya membuat akar menjadi busuk.

Menurut pengalaman saya menanam black pine, jangan merepoting bersamaan dengan mencukur daunnya. Ada kejadian ketika karyawan kebun saya tidak melaksanakan petunjuk yang saya ajarkan. Ketika saya keluar kota dan tidak menyaksikan kerjanya, karyawan tersebut merepoting dan mencukur secara serentak. Sehingga menyebabkan beberapa pohon black pine setengah jadi menjadi mati.

Di Indonesia yang 2 musim ini, waktu paling baik untuk merepoting black pine adalah antara akhir musim kemarau dan awal musim hujan (sekitar awal September), tetapi harus juga melihat kondisi black pine. Pohon tersebut harus dalam kondisi tunas baru mulai muncul dan belum mekar daunnya. Kalau daunnya sudah mekar maka pohon akan lemah, dan resiko repoting menjadi besar.

 

PENYIRAMAN, PEMUPUKAN, DAN PENGOBATAN

Black Pine adalah pohon yang senang air. Jika kita melakukan penyiraman yang cukup, maka akan tumbuh subur. Penyiraman dilakukan minimal 1 hari 1 kali, kalau musim panas minimal 2 kali sehari, dan harus sekalian menyiram daunnya. Airnya tidak boleh mengendap di tanah dlm pot (ini sangat penting !). Maka hasilnya adalah pohon tumbuh subur, daunnya lebat dan berwarna hijau tua mengkilap. Black Pine juga tahan kering bila ditanam dalam pot. Apabila terlambat menyiram 1-2 hari maka tidak akan mati kekeringan, tapi akan menghambat pertumbuhannya atau menyebabkan pohon menjadi stres. Kalau sampai demikian maka untuk mengembalikan kesuburannya sampai semula harus memerlukan waktu beberapa bulan. Dan harus ingat black pine tidak bisa hidup dengan disiram air yang kena polusi, maupun di tempat yang udaranya berpolusi.

Black Pine paling bagus ditempatkan pada tempat yang sehari penuh kena sinar matahari, dan memiliki sirkulasi udara yang bagus. Pemupukan cukup 1 bulan 1 kali pada tanahnya dengan dosis standard (1 sendok makan 4 liter air), dan 1 minggu 1 kali pemupukan pada daunnya (dosis ½ sendok makan 4 liter air).

Pencegahan penyakit sekitar 1-2 bulan 1 kali dengan menyemprot daunnya.

Demikianlah pengalaman saya tentang perawatan bonsai black pine. Mudah-mudahan bermanfaat bagi anda sekalian yg hendak memelihara atau mengoleksi bonsai black pine. Jangan lupa untuk selalu mengunjungi situs Bonsai Star ( http://www.bonsaistar.com ) untuk memperoleh pengetahuan dan informasi terbaru tentang bonsai. Untuk selanjutnya apabila tidak terhalang oleh kesibukan , maka satu per satu saya akan membagikan pengalaman dan pengetahuan tentang cara menanam dan membuat bonsai : beringin (Ficus Benjamina), Cemara (Juniperes), Cemara Udang (Casaurina equisetifolia), Anting putri (Wrightia religiosa), dsb. Sampai jumpa !